Untuk para kerabat dan sahabat Indonesiaku aku ucapkan selamat datang dan terimakasih telah mengunjungi blog ini. tidak ada yang istimewa tersaji, hanyalah ungkapan pikiran dan hati dari sebutir pasir dari padang luas yang bernama Indonesia ini. Sekali lagi terimakasih.
Pada masa bangsa Indonesia di pimpin oleh Presiden Soekarno, Indonesia pernah mendapatkan tawaran bantuan soft loan (hutang jangka panjang) oleh Negara-negara maju. Namun Soekarno sangat tegas menolak, bahkan dengan penuh percaya diri mengatakan“go to hell with your aid”. Memang pada saat itu Indonesia bukanlah Negara maju, hanya Negara kecil yang miskin dan terbelakang. Namun kita bangga memiliki pemimpin yang dengan bangga menenteng slogan berdikari (berdiri diatas kaki sendiri). Sebuah kepercayaan diri yang sangat luar biasa yang tidak akan kita temukan hari ini.
Hari ini, ketika anda di luar negeri, butuh keberanian dan ketabahan yang luar biasa untuk menjawab “saya dari Indonesia”. Malaysia mempunyai reaksi yang berbeda dengan orang Singapura, hongkong, Taiwan, atau Arab Saudi. Namun yang pasti berbagai macam reaksi itu intinya tetap sama: mencibir!
Cintailah Produk Indonesia!
Slogan itu bikin saya pusing tujuh keliling. Jangaan salah sangka dulu! Bukan saya tidak mencintai produk Indonesia. saya Cuma bingung, memangnya Indonesia sudah bisa memproduksi apa? Jika ada barang elektronik yang mengaku produksi Indonesia, jujur saya meragukan. Yang ada Cuma perakitan di Indonesia, itu baru benar! Tidak usaha bicara soal yang berat-berat seperti elektronik, HP, dll. Wong bibit padi, jarum jahit, sandal jepit, sabun mandi dan paku payung saja produk luar negeri kok.
Untuk apa lahan pertanian luas?
Untuk apa kekayaan mineral, minyak dan gas?
Untuk apa semua ini?
Jika kita tidak mampu memberdayakannya.
Sebegitu bebalkah diri kita sehingga kita tidak mampu melakukan apapun?Nyatanya kita punya Habibie, kita selalu menang Olimpiade fisika, kita selalu mendapat predikat cum laude dan begitu banyak fakta yang membuktikan bahwa kita punya orang-orang yang berotak encer. Kita hanya tidak pernah percaya bahwa diri kita bisa.Mungkinkah kita masih mewarisi sifat inlander sehingga kita tidak pernah percaya bahwa kita bisa melakukan sesuatu.
“Masih segar dalam ingatan saya, pada tahun 85-an, ketika televisi sudah mulai menyapa kampung saya meskipun hanya pada beberapa titik rumah. televisi 14’ yang warnanya bisa diganti sesukanya sesuai dengan pilihan screen yang tersedia pada saat itu masih dengan teknologi power yang diambil dari accu yang di stroom setiap seminggu sekali di Kota. Meskipun tingkat toleransi yang tinggi terhadap penuh sesaknya tetangga yang ikut nonton bersama dengan aroma masing-masing dan itupun masih dibutuhkan kedisiplinan tinggi karena barang siapa yang terlambat alamat akan mendapatkan tempat di belakang. Namun itu semua tidak sebanding dengan kedasyatan sensasi yang saya rasakan dari keberadaan TV tersebut. Dari perangkat elektronik itulah saya tahu betapa diluar sana begitu luar biasa. Pidato “daripada” presiden dan siaran berita yang berisi kemajuan-kemajuan yang telah di capai oleh bangsaku tercinta ini benar-benar membakar semangat agar saya bisa lekas dewasa dan turut serta membangun bangsa. Itulah pikiran yang ada pada diri saya pada saat itu”.
“Bangganya saya menjadi bagian dari bangsa ini….”.
Ilustrasi diatas hanyalah sekedar bayangan masa kecil, tidak perlu terlalu heroik dan dianggap serius. Nyatanya khan salah semua apa yang saya bayangkan. Saat itu saya Cuma shock karena untuk pertama kalinya ketemu dengan benda yang bernama TV. Benda yang kemudian hari saya tahu tidak selalu menyajikan sesuatu yang benar. Dulu kita tahunya dibantu oleh Negara-negara maju, nyatanya bukan bantuan tapi hutang. Mimpi kita telah rusak setelah kita tahu bahwa semua itu hanyalah semu. Sekarang adalah masa dimana kita enggan untuk bermimpi. Kita tidak percaya lagi dengan semua janji yang ada. Walau masih banyak orang baik, tapi nyatanya lebih banyak orang yang ingkar.
Jadi kalau ditanya apakah anda bangga menjadi orang Indonesia? Jawaban saya adalah Saya ikhlas menjadi orang Indonesia.
Mudah-mudahan keikhlasan saya bukan hanya sekedar kata-kata…. Mudah-mudahan keikhlasan saya bisa bertahan lama… Amin!
Tahun ini saya sering terharu, betapa banyaknya orang yang mengharu biru membuat berbagai kegiatan yang bertemakan 100 tahun kebangkitan nasional. Betapa bangganya sang empu dr. Sutomo dkk. Melihat betapa warga Negara Indonesia begitu bersemangat merayakan hasta karya mereka. Berbagai macam kegiatan, mulai dari seminar, sarasehan, upacara, sampai cerdas cermat, dan banyak lagi yang merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dengan berbagai macam improvisasi dan selera masing-masing.
Hanya saja saya jadi sering bertanya, benarkah setiap momentum bersejarah harus diperingati. Saya bukan ahli bahasa Indonesia yang bermaksud mengutak-atik secara bahasa, kenapa namanya kok peringatan? Bukankah peringatan itu konotasinya agak negatif. Peringatan: awas anjing galak! Awas kabel tegangan tinggi! Dll. Bukan itu maksud saya. Yang saya maksud adalah apakah bentuk peringatan yang kita lakukan selama ini memang harus selalu seperti itu? Sudah 63 tahun kita merdeka, berarti kita sudah merayakan ultah kemerdekaan selama 62 tahun. Apakah selalu perayaan ultah kemerdekaan harus dengan upacara, tarik tambang, lomba makan kerupuk, panjat pinang dll. Perubahan zaman dari orde lama menuju orde baru dan sekarang orde yang lebih baru lagi, toh tidak mampu merubah tradisi yang “itu-itu aja”.
Yang menjadi pertanyaan mendasar saya adalah, kalau hari ini kita memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, kira-kira apa yang akan diperingati masyarakat 100 tahun lagi?
Ah!
Majapahit melahirkan Sumpah Palapa!
Founding Father Indonesia melahirkan Sumpah Pemuda!
Tanggal 14 Juli saya mengembalikan berkas pencalonan anggota DPD ke KPUD Provinsi Jawa Tengah setelah selama 14 hari saya bekerja keras mengumpulkan segala persyaratan yang diwajibkan. Ada rasa bahagia bahwa saya dan segenap teman-teman telah berhasil melewati tahap pertama untuk menuju kepada proses selanjutnya.
Sempat saya ragu untuk melangkah kepada keputusan yang cukup besar dalam hidup saya. Mencalonkan diri menjadi Anggota DPD RI. Bukan sekedar menang ataupun kalah dalam pemilu, namun tentu saja saya harus mampu menjelaskan kepada semua teman-teman mengapa saya mencalonkan diri.
Pada awalnya memang banyak pertanyaan yang muncul, apa sebenarnya tujuan saya dan kenapa memilih DPD dan bukan DPR. Padahal persyaratan yang harus dipenuhi lebih berat. Ini tentu bukan sekedar soal gagah-gagahan saja. Bagi saya ini adalah sebuah keputusan yang diambil setelah melalui proses yang panjang. Saya melihat, DPD lebih memiliki nilai netralitas ditengah kepungan partai yang begitu banyak. Dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPD saya menjadi lebih bisa menempatkan diri ditengah teman-teman daripada ketika saya harus mencalonkan diri sebagai anggota DPR dari partai tertentu.
Dan ajaibnya, seluruh teman-teman saya, baik dari aktivis mahasiswa maupun pesantren mendukung saya secara penuh. Bahkan tidak sedikit yang membantu mencarikan dukungan copy KTP sebagai syarat mutlak pencalonan. Dan Alhamdulillah, syarat pengumpulan 5.000 KTP dapat terpenuhi. Bahkan saat mengembalikan berkas, saya membawa tidak kurang dari 8.338 copy KTP. Terimakasih teman-teman!
Kalo bicara soal tujuan, visi dan misi. Simpel saja kali ini saya hanya bisa mengatakan bahwa, Hanya hanya ingin hidup yang berguna dan tidak sia-sia!